“ Sejarah Agama Hindu di Indonesia “
Agama Hindu adalah agama yang berasal dari lembah sungai suci sindhu di India.
Agama Hindu berkembang di Indonesia pada abad ke 4 Masehi. Penybar agama Hindu dari India ke Indonesia adalah Rsi Agastya.
Berkaitan dengan masuknya agama Hindu di Indonesia, para ahli menggunakan analisis dengan argumentasi beberapa tiori antara lain :
1. Mookerjee [India] tahun 1912 dengan teori dagangnya.
2. Prof.Moons [Belanda] dengan teori Ksatria.
3. Krom [Belanda] dengan teori Waisya.
4. Bosh [Belanda] teori kaum Brahmana.
5. Prasasti Dinoyo [Jawa Timur] Rsi Agastya.
* Kerajaan – kerajaan Hindu di Indonesia
1. Kerajaan Kutai
Kerajaan kutai terlatak di Kalimantan Timur di huul sungai Mahakam sekitar abad ke 4 Masehi, dengan diketemukan 7 buah Yupa. Yupa adalah tiang batu yang bertuliskan huruf Palawa dengan berbahasa Sansekerta. Raja yang paling terkenal adalah Mulawarman.
2. Kerajaan Taruma Negara
Kerajaan Taruma Negara terlatak di wilayah Jawa barat. Sumber – sumber sejarah yang menunjang tentang keberadaan kerajaan Taruma Negara adalah berita Cina menyebutkan bahwa seorang pendeta Cina bernama Fa Hien terdampar di pantai pulau Jawa [414 M]
Kebesaran kerajaan meninggalkan banyak prasasti yaitu :
1. Prasasti Ciareteum
2. Prasasti Kebon Kopi
3. Prasasti Tugu
4. Prasasti Jambu
3. Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran banyak diketemukan peninggalan – peninggalan yang sebagai bukti di sana telah berkembang agama Hindu dengan pesat.
4. Kerajaan Holing
Kerajaan Holing berkembang di Jawa Tengah pada 674 Masehi, berasal dari dinasti Tang, dengan raja perempuan bernama Ratu Sima.
Kebesaran kerajaan Hindu di Jawa Tengah dapat dilihat dari prasasti Tukmas yang memakai huruf Palawa dengan berbahasa Sansekerta.
* Kerajaan Hindu di Jawa Timur
a.Kerajaan Kanjuruhan
b.Kerajaan Medang Kemulan
c.Kerajaan Pasuruan
* Beberapa sebab runtuhnya kerajaan Hindu :
- Banyaknya kerajaan Hindu.
- Masuknya pengaruh agama – agama lain.
- Banyaknya kerajaan bawahan melepaskan diri.
- Rusak dan hancurnya sarana dan prasarana Hindu.
- Adanya Perang saudara dan kekacauan di lingkungan kerajaan.
5. Kerajaan Hindu di Bali
a. Pada masa Bali Kuno keluarga raja – raja Warmadewa pertamakali muncul dalam sejarah 914 – 1080.
b. Pada masa Bali pertengahan, diawali dengan pemerintahan Sri Kresna Kepakisan Yang pusat kerajaannya ada di Samprangan dan puncak keemasannya adalah waktu pemerintahan Dalem Waturenggong dengan pendeta istananya Dang Hyang Nirarta yang berjasa banyak terhadap kehidupan kerajaan ini. .
Tampilkan postingan dengan label Agama Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Hindu. Tampilkan semua postingan
1 Sejarah Agama Hindu di Indonesia
23.57 Label
Agama Hindu
Oleh ◄Widhi Mahaputra►
[1 Comment]
[1 Comment]
0 Bhuana Agung dan Bhuana Alit
23.13 Label
Agama Hindu
Oleh ◄Widhi Mahaputra►
[0 Comment]
[0 Comment]
Keberadaan Bhuana Agung dan Bhuana Alit ini tak lekang dari adanya Brahman. Proses penciptaan Jagat Raya beserta isinya ini terjadi pada kurun waktu yang disebut Srsti. Sedangkan ketika alam semesta ini meniada disebut dengan Pralaya atau Brahmanakta (malam hari Brahman). Brahman yang tunggal dan mengetahui semua hal ini sering disebut Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
1. PENDAHULUAN
Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta, sangat sulit dipastikan, mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Beberapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. Menurut susastra suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada, lalu ada, kemudian tidak ada lagi, demikian seterusnya berulang-ulang.
2. BHUANA AGUNG
2.1 PENGERTIAN BHUANA AGUNG
Bhuwana Agung terdiri atas dua kata, yaitu kata “Bhuwana” yang artinya dunia, alam, loka dan jagat dan kata “Agung” berarti besar atau raya. Jadi, kata bhuana agung adalah istilah yang dipergunakan dalam agama hindu untuk menyebutkan alam semesta atau alam raya ini.
Bhuana agung juga disebut dengan istilah Makrokosmos, jagat raya, alam besar, atau Brahmanda. Semua gugusan : matahari, planet, bintang, bumi, bulan dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut Bhuana Agung.
2.2 TERJADINYA BHUANA AGUNG
Menurut ajaran Agama Hindu, alam semesta berasal dari Bhatara Siwa yang disebut juga Rudra, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Prosesnya dimulai dari yang paling halus/gaib kemudian menjadi lebih kasar/nyata. Disebutkan ada 12 tahapan dengan istilah “Tattwa rwawelas” yakni Bhatara Siwa (Rudra), Sang Purusa (Brahman), Awyakta (Wisnu), Budhi yang bersifat sattwa, Ahamkara yang bersifat rajah, Panca Tan Matra yang bersifat tamah, Manah, Akasa, Bayu, Agni, Apah, dan Perthiwi.
Bhuana Agung diciptakan secara bertahap. Berawal dari kekuatan tapa-Nya, terciptalah dua kekuatan yang disebut Purusa (Unsur dasar yang bersifat kejiwaan atau rohani) dan Prakerti (Unsur dasar yang bersifat kebendaan atau jasmani). Selanjutnya dari pertemuan Purusa dan Praketri munculah zat yang sangat halus yang disebut dengan “citta”. Citta yang terpengaruh oleh kekuatan Tri Guna yaitu Sattwam, Rajas, dan Tamas sehingga terciptalah unsur Buddhi, Manah dan Ahamkara. Pada tahapan berikutnya setelah muncul Tri Guna terciptalah dasendriya oleh kekuatan tapa-Nya Brahman, maka muncullah Panca Tan Matra yaitu lima unsur zat yang bersifat halus. Dari unsur-unsur Panca Tan Matra inilah muncul Panca Maha Bhuta yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat lebih kasar dari Panca Tan Matra. Panca Maha Bhuta berevolusi serta menyempurnakan bentuknya dan terciptalah Brahmanda-Brahmanda yang salah satunya adalah Bumi. Bumi sebagai sebagai tempat makhluk hidup keberadaannya berlapis-lapis.
Lapisan menuju ruang jagat raya disebut “Sapta Loka” yang terdiri dari:
a) Bhur Loka (alam manusia)
b) Bhuwah Loka (alam pitra)
c) Swah Loka (alam dewa)
d) Maha Loka
e) Jana Loka
f) Tapa Loka
g) Satya Loka (ruang vakum = Nirgunan Brahman)
Lapisan menuju inti Bumi atau “Kalagni Rudra” disebut “Sapta Patala” yang terdiri dari :
a) Atala
b) Vitala
c) Sutala
d) Talatala
e) Mahatala
f) Rasatala
g) Patala
Demikian Agama Hindu menjelaskan tentang asal mula terjadinya unsur-unsur bhuana agung yang pada mulanya bersifat sangat halus. Pada masa “Srsti” dievolusi oleh Tuhan sehingga menjadi mengeras, dan pada saat “Pralaya” nanti diolah lagi oleh Tuhan untuk dikembalikan pada sifat yang sangat halus itu melalui hukum-Nya yang disebut dengan “Rta”.
2.3 UNSUR-UNSUR BHUANA AGUNG
Proses terjadinya alam semesta “Bhuana Agung” tersebut terdiri dari beberapa unsur, antara lain :
· Sang Hyang Widhi
Asal mula dari alam semesta ini. Beliau berkeadaan sunya (sepi), yang ada mutlak, absolut, kekal, abadi dan sangat abstrak.
· Tapa
Pemusatan tenaga pikiran yang terkeram sehingga menimbulkan panas yang memancar, dengan tapa Beliau menciptakan alam semesta ini beserta isinya.
· Sang Purusa (Brahma)
Merupakan benih kehidupan. Beliau bersifat abadi “nitya”, tidak dapat ditangkap dengan indriya, tidak dapat dibayangkan “inangenangen”.
· Awyakta (Wisnu)
Asas material, kebendaan, yang tanpa kejiwaan. Awyakta merupakan Pradhana atau Prakerti sebagai sumber material.
· Buddhi
Bersifat sattwam yang merupakan asas intelegensi dari kesadaran.
· Ahamkara
Bersifat rajah yang merupakan asas kesendirian “individualis” yang bersifat mengaku lebih dan tidak mau merendah.
· Manah
Alam pikiran yang gunanya untuk berpikir.
· Panca Tan Matra
Panca Tan Mantra adalah lima benih unsur yang sangat halus, terdiri dari :
a. Sabda Tan Mantra adalah benih suara
b. Rupa Tan Mantra adalah benih dari sari warna
c. Rasa Tan Mantra adalah benih sari rasa
d. Gandha Tan Mantra adalah benih sari bau
e. Sparsa Tan Mantra adalah benih sari raba, sentuhan
· Panca Maha Bhuta
Setelah melalui proses evolusi yang amat panjang maka lahirlah lima unsur yang lebih kasar yang disebut Panca Maha Butha yang terdiri dari :
a. Akasa atau Ether timbul dari sabda dan sparsa tan mantra : angkasa.
b. Bayu atau hawa timbul dari sabda dan sparsa tan mantra : udara.
c. Teja atau panas timbul dari sabda dan rupa tan mantra : matahari, api.
d. Apah atau cair timbul dari sabda, sparsa, rupa dan rasa tan mantra : air.
e. Pretiwi atau padat timbul dari kelima unsur tan mantra : tanah, batu.
2.4 SLOKA PENCIPTAAN BHUANA AGUNG
Kitab suci weda dan sastra Agama Hindu lainnya banyak menjelaskan tentang terciptanya alam semesta ini, sloka-sloka tersebut antara lain :
“Idam wa agranaiwa kincit, sadwa saumnya idam agra asit, ekam eva adwitya”.
(Chandogya Upanisad)
Artinya :
Sebelum diciptakan alam semesta ini tidak ada apa-apa. Sebelum alam semesta diciptakan hanya Ida Sang Hyang Widhi yang maha ada, Maha Esa tiada duanya.
“Asididam tamobhutamaprajnatam alaksam apratarkya mawijneyam prasuptaniwa sarwatah”.
(Manawa Dharmasastra 1.5)
Artinya :
Alam Semesta ini pada mulanya adalah bentuk kegelapan, tak dapat dilihat tanpa ciri-ciri sama sekali, tak kan terjangkau oleh daya pikiran, tak dapat dikenali, seolah-olah sebagai orang yang tenggelam dalam tidur yang paling nyenyak.
“Aprare’yam itas tvanyam Prakrtim viddhi me param, jivabhutam’dam dharyate jagat”.
(Bhagawadgita VII.5)
Artinya :
Inilah unsur alam-Ku yang lebih rendah dan ketahuilah sifatku yang lebih tinggi. Oh Mahabahu, unsur hidup, yaitu jiwa yang mendukung alam semesta ini.
3. BHUANA ALIT
3.1 PENGERTIAN BHUANA ALIT
Bhuwana alit adalah alam kecil yaitu isi dari jagat raya atau alam semesta ini. Yang dapat kita kelompokkan seperti bumi, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia serta makhluk yang lainnya.
Kitab Sveta Svatara Upanisad menjelaskan, sebagai berikut : Rudra setelah menciptakan bumi dengan segala isinya, lalu memberi tangan kepada manusia dan memberi sayap kepada burung-burung. Beliau juga menjadi mata dari semua makhluk, menjadi wadah/muka semua makhluk, menjadikan tangan dari semua makhluk, bahkan menjadi kaki dari semua makhluk.
3.2 TERJADINYA BHUANA ALIT
Setelah Ida Sang Hyang Widhi Wasa mencipakan alam semesta (Bhuana Agung) maka berkehendaklah Beliau menciptakan isinya seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan yang lainnya. Makhluk hidup diciptakan mulai dari yang terendah sampai dengan makhluk hidup yang tertinggi.
Makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa setelah terciptanya alam semesta ini dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
a. Kelompok Eka Pramana, yaitu makhluk hidup yang memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yakni Bayu. Makhluk hidup ini disebut “Sthawara”, yaitu makhluk hidup yang tidak dapat berpindah-pindah seperti tumbuh-tumbuhan.
Yang tergolong “Sthawara” adalah:
1) Trana (bangsa rumput)
2) Lata (bangsa tumbuhan menjalar)
3) Taru (bangsa semak dan pepohonan)
4) Gulma (bangsa pohon yang bagian luar pohon bersangkutan berkayu keras dan bagian dalamnya berongga atau kosong)
5) Janggama (bangsa tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon yang lain)
b. Kelompok Dwi Pramana, yaitu makhluk hidup yang dalam hidupnya memiliki dua kekuatan yakni Bayu dan Sabda. Makhluk hidup ini disebut Satwa atau Sato yaitu bangsa binatang yang pada umumnya bersifat buas, namun diantaranya ada yang bersifat jinak terutama yang mendapat pendekatan secara manusiawi.
Yang tergolong Satwa atau Sato:
1) Swedaya (bangsa binatang bersel satu)
2) Andaya (bangsa binatang yang bertelur)
3) Jarayudha (bangsa binatang yang menyusui)
c. Kelompok Tri Pramana, yaitu makhluk hidup yang memiliki tiga kekuatan dalam hidupnya yakni Bayu, Sabda, dan Idep. Makhluk hidup ini disebut Manusya. Manusya atau manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena telah memiliki pikiran. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Nara Mega (manusia binatang)
2) Wamana (manusia kerdil)
3) Jatma (manusia yang paling sempurna)
Jenis-jenis manusia antara lain:
1) Manusia laki-laki (Purusa)
2) Manusia perempuan (Pradana)
3) Manusia banci
Manusia sebagai makhluk tertinggi kelahirannya mengalami siklus yang panjang. Mulai dari bayi dalam kandungan berkat pertemuan antara Kama Petak/Sukla dan Kama Bang/Swanita. Kama Petak/Sukla adalah sel laki-laki atau sperma yang disimbulkan dengan Sang Hyang Smara. Kama Bang/Swanita adalah sel wanita atau telur/ovum yang disimbulkan dengan Dewi Ratih. Dalam Lontar Anggastyaprana, pertemuan Kama Petak dengan Kama Bang disebut Sang Ajursulang. Sampai akhirnya pertemuan tersebut membentuk sygote dan mengalami proses pertumbuhan dalam rahim sang ibu yang semakin hari semakin membesar serta mengubah dirinya sehingga akhirnya membentuk dan lahirlah seorang bayi “Bhuana Alit”.
Kelahiran manusia sebagai makhluk hidup (Bhuana Alit) merupakan wujud yang mulia karena semuanya itu bersumber dari Tuhan. Dengan demikian kita hendaknya mensyukuri dan mengabdikan diri demi kepentingan dharma.
3.3 UNSUR-UNSUR BHUANA ALIT
Bhuana Alit dan Bhuana Agung diciptakan oleh Tuhan dengan unsur yang sama yaitu “Purusa” dan “Prakrti”. Purusa menjadi jiwatman yang disebut sukma sarira atau lingga sasira. Sedangkan Prakrti menjadi badan kasar atau Sthula sarira. Dalam menggerakan perbuatan baik dan buruk Bhuana Alit (khususnya manusia) memiliki sepuluh indria yang disebut Dasendriya, yang terdiri dari :
a. Panca Budhindriya, yaitu lima macam indriya yang terdapat pada manusia untuk mengetahui sesuatu, terdiri dari sebagai berikut :
1. Caksuindriya (Indriya pada mata)
2. Srotendriya (Indriya pada telinga)
3. Ghranendriya (Indriya pada hidung)
4. Jihwendriya (Indriya pada lidah)
5. Twakindriya (Indriya pada kulit)
b. Panca Karmendriya, yaitu lima macam indriya yang ada pada manusia yang berfungsi untuk melakukan sesuatu, terdiri dari sebagai berikut :
1. Panindriya (Indriya pada tangan)
2. Padendriya (Indriya pada kulit)
3. Garbhendriya (Indriya pada perut)
4. Upasthendriya / Bhagendriya (Indriya pada kelamin laki-laki dan perempuan)
5. Payuindriya (Indriya pada anus)
Sthula Sarira terjadi sebagai akibat Panca Tanmatra yang berevolusi, berubah secara perlahan-lahan menjadi Panca Maha Bhuta pada Bhuana Alit. Perubahan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Sabda Tanmatra : rongga dada, ronga mulit.
b. Sparsa Tanmatra : nafas, udara.
c. Rupa Tanmatra : panas badan (suhu), sinar mata.
d. Rasa Tanmatra : darah, lemak, kelenjar empedu.
e. Gandha Tanmatra : tulang, otot, daging.
Terkait dengan Sthula Sarira atau badan kasar manusia disebutkan memiliki unsur-unsur lainya seperti berikut :
a. Sad Kosa, yaitu enam lapis pembungkus Sthula Sarira manusia yang terdiri dari asti (tulang), Odwad (otot), Mamsa (daging), Rudhira (darah), dan Carma (kulit).
b. Dasa Bayu atau dasa Prana, yaitu sepuluh macam udara badan yaitu :
1. Prana (udara pada paru-paru)
2. Samana (udara pada pencernaan)
3. Apana (udara pada pantat)
4. Udana (udara pada kerongkongan)
5. Byana (udara yang menyebar ke seluruh tubuh)
6. Naga (udara pada perut)
7. Kumara (udara yang keluar dari badan, tangan dan jari)
8. Krakara (udara pada saat bersin)
9. Dewadatta (udara saat menguap)
10. Dananjaya (udara yang memberi makan pada badan)
Selain unsur-unsur tersebut, terdapat lima macam unsur yang ada pada Suksma Sarira yang disebut “Panca Mayakosa” yang merupakan unsur pembungkus Suksma Sarira manusia yang bersifat sangat halus yaitu :
a. Anamaya Kosa (unsur pembungkus dari sari makanan)
b. Pranamaya Kosa (unsur pembungkus dari sari nafas)
c. Wijnanamaya Kosa (unsur pembungkus dari pengetahuan)
d. Manomaya Kosa (unsur pembungkus dari pikiran)
e. Anandamaya Kosa (unsur pembungkus dari kebahagiaan)
3.4 SLOKA PENCIPTAAN BHUANA ALIT
Proses terciptanya Bhuwana Alit dijelaskan oleh beberapa kitab dan sastra Agama Hindu, antara lain :
“So’bhidyaya carirat swatsisrksur wiwidhah prajah, apa ewasa sarja dan tasu bija mawa bijat”
(Manawa Dharmasastra 1.9)
Artinya :
Ya Tuhan yang menciptakan diri darinya sendiri semua makhluk hidup beraneka ragam, mula-mula dengan pikirannya, terciptalah air dan meletakan benih-benih kehidupan pada air itu.
“Mama yonir mahad brahma, tasmin garbham dadhamy aham sambhavah’ sarwabhutanam tato bhavati bharata”.
(Bhagawadgita XIV.3)
Artinya :
KandunganKu adalah Brahma Yang Esa di dalamnya Aku letakan benih dan dari sanalah terlahir semua makhluk, wahai Bharata.
4. PRALAYA BHUANA AGUNG DAN BHUANA ALIT
Ketika alam semesta ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma Nakta” atau malam hari Brahma. Berdasarkan pendekatan agama “Alam Semesta atau Bhuana Agung” beserta “isinya atau Bhuana Alit” diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang bergelar “Rudra” dan juga dikembalikan pada asalnya oleh Beliau. Jika masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya maka disebut satu hari Brahma atau satu “Kalpa”. Menurut perhitungan bahwa satu kalpa itu kurang lebih 432 juta tahun, yang juga disebut dengan satu tahun Tuhan.
“Utsideyur ime loka, na kuryam karma ced aham, sankarasya ca karta syam, upahanyam imah prajah”.
(Bhagawadgita III.24)
Artinya :
Jika Aku berhenti bekerja, dunia ini akan hancur lebur, dan aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semua.
Gambaran pada waktu terjadinya “Pralaya” dapat dinyatakan sebagai berukut : Hancurnya ikatan kesatuan api atau matahari “teja” lalu menyebar ke seluruh ruangan besar yang mengakibatkan udara menjadi panas dan terus membara akibatnya “air” yang ada menguap dan habis. Oleh karena itu, semua makhluk hidup akan mati dan hancur. Zat logam atau batu”tanah” yang ada di bumi dan planet-planet lainnya hancur menjadi cair dan menguap oleh panas yang dahsyat. Panca Maha Bhuta kembali menjadi “atom-atom” dalam wujud yang amat sangat kecil sekali.
5. HUBUNGAN BHUANA AGUNG DAN BHUANA ALIT
Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut :
a. Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa Pralaya.
b. Bhuwana Agung dan Bhuana Alit memiliki unsur-unsur yang sama. Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya, tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.
c. Bhuwana Agung dan Bhuawana Alit saling melengkapi. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Alam dilengkapi dengan berbagai ornament untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Brahman ( Rta ). Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam, seperti rotasi bumi dan matahari, siklus perputaran air ( hidrologi ), siklus perputaran musim dan sebagainya. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia erupakan bagian dari alam.
b. Bhuana Agung dan Bhuana Alit saling mempengaruhi. Karena Bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Pribadi, budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam.
2 Kepemimpinan
03.46 Label
Agama Hindu
Oleh ◄Widhi Mahaputra►
[2 Comment]
[2 Comment]
Materi kepemimpinan agama hindu ini sudah kita pelajari di SD, SMP dan diulang lagi di SMA
Kali Ini saya akan mengshare materi kepemimpinan hindu, yang saya dapatkan di kelas XI, materinya dapat di lihat di bawah ini.
Kali Ini saya akan mengshare materi kepemimpinan hindu, yang saya dapatkan di kelas XI, materinya dapat di lihat di bawah ini.
Link Download Materi Kepemimpinan
Materi Kepemimpinan
A. Pengertian Kepemimpinan
1)
Kelebihan dalam mempergunakan rasio atau pikiran
2)
Kelebihan dalam bidang rohaniah
3)
Kelebihan dalam bidang jasmaniah
1)
Intelegensi adalah kemampuan dalam mengobservasi
pengetahuan, kemampuan menghadapi situasi baru, kemampuan melihat hubungan
antara kenyataan dalam situasi baru. Dengan intelegensi tinggi maka seorang
pemimpin dapat mengambil keputusan secara tepat dan cepat
2)
Karakter adalah sifat – sifat kepribadian yang
berhubungan dengan nilai – nilai.
3)
Kesiapsiagaan adalah selalu awas dan waspada
terhadap segala kemungkinan yang terjadi yang dapat dilakukan dengan memelihara
fisik dan mempertinggi kesadaran jiwa.
4)
Jujur atau satya adalah kesetiaan. Kesetiaan
adalah kode etik dari setiap umat Hindu, dalam ajaran agama Hindu kesetiaan ada
5 yang disebut dengan panca Satya yaitu sebgai berikut :
a)
Satya
Hradaya : jujur terhadap
diri sendiri atau pikiran
b)
Satya
Wacana : jujur terhadap
ucapan atau perkataan
c)
Satya
Semaya : setia terhadap
janji
d)
Satya
Mitra :
setia terhadap sahabat atau teman
e)
Satya
Laksana : jujur dalam
perbuatan atau tindakan
B. Tujuan Kepemimpinan
Hindu
1)
Machstaat
adalah prinsip Negara untuk menguasai segala potensi yang dimiliki oleh Negara
yang bersangkutan untuk diabdikan kembali pada tujuan masyarakat Negara itu
2)
Rechtstaat
adalah prinsip Negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara agar
berbagai keadaan dan kepentingan yang berbeda – beda dapat diatur dalam rangka
mempercepat tercapainya tujuan Negara
3)
Polisistaat
adalah suatu prinsip Negara yang memandang segala seluk beluk kehidupan Negara
harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan demi terwujudnya
tujuan Negara
4)
Supervisorystaat
adalah prinsip Negara yang memandang bahwa fungsi Negara ialah mendorong segala
unsur – unsur Negara untuk lebih cepat mencapai tujuan
C. Fungsi Kepemimpinan Hindu
1)
Planning
atau Perencanaan
Ø Planning
adalah suatu pemikiran, perencanaan, persiapan, keputusan dan penerapan yang
dilakukan sebagai suatu kegiatan dari seorang pemimpin
2)
Organisation
atau Pengelompokan
Ø Organisation
adalah usaha untuk mengelompokkan atau menata kegiatan yang telah dicantumkan
dalam perencanaan
3)
Directing
Ø Directing
adalah mengusahakan agar rencana pekerjaan itu dapat dilaksanakan
4)
Coordination
Ø Coordination
adalah tindakan untuk memperoleh dan memelihara kesatuan diantara perorangan
atau bagian karena usaha yang satu secara konstan merupakan bagian atau
pelengkap dari usaha – usaha lainnya
5)
Controlling
Ø Controlling
adalah pengawasan terhadap rencana yang telah dilaksanakan oleh pemimpin untuk
memperoleh keyakinannya
D. Asas –
Asas Kepemimpinan Hindu
1. Panca Dasa Pramiteng Prabhu
a) Panca :
Lima
b) Dasa :
Sepuluh
c) Pramiteng : Sifat yang utama
d) Prabhu :
Pemimpin / raja
1)
Wijaya :
berlaku bijaksana dan penuh hikmat
2)
Mantriwira :
bersifat pemberani dan membela negara
3)
Wicaksanengnaya : sangat bijaksana dalam
memimpin
4)
Natanggwan : mendapatkan
kepercayaan dari rakyat
5)
Satyabhakti
aprabhu : selalu taat dan
setia pada atasan
6)
Wakmiwak : pandai
berbicara di depan umum
7)
Sarjawaupasawa : bersifat sabar dan
rendah hati
8)
Dhirotsaha : bersifat
teguh hati dalam segala usaha
9)
Teulelana :
bersifat teguh iman dan selalu riang
10)
Dibyacita :
bersifat lapang dada atau toleransi
11)
Tansatresna : tidak
terikat pada kepentingan golongan
12)
Masihsatresna
Bhuana : bersifat menyayangi
isi alam
13)
Ginengpratidina : setiap hari berusaha
berbuat baik
14)
Sumantri :
bersifat menjadi abdi Negara
15)
Anayakenmusuh : mampu membersihkan
musuh Negara
2. Sad Warnaning Rajaniti / Sad Sasana
a) Sad : Enam
b) Warnaning : Kesan yang diperoleh, corak rupa, corak ragam
c) Raja :
Debu, abu, tepung sari, bunga
d) Niti :
kemudi, pimpinan, politik dan sosial etik
1)
Abhigainnika
: mampu menarik perhatian yang
positif dari masyarakat
2)
Prajna
: memiliki daya kreatif yang benar yang sesuai dengan dharma
3)
Utsaha
: memiliki daya kreatif yang luhur guna memajukan kepentingan
4)
Sakya
Samanta : mampu mengontrol bawahannya
5)
Atma
Sampad : memiliki moral yang baik dan luhur
6)
Aksudra
Parisatha : memiliki kemampuan untuk melakukan persidangan
a)
Panca : Lima
b)
Upaya : Usaha, Ikhtiar (untuk mencapai
suatu maksud)
c)
Sandhi : Rahasia, kode, berita
1)
Maya : memiliki kemampuan untuk
mengumpulkan data
mengenai suatu permasalahan yang belum
jelas
2)
Upeksa : memiliki upaya dan kemampuan
untuk meneliti dan
menganalisis semua data dan informasi
yang ada
3)
Indrajala : memiliki upaya dan kemampuan untuk
mencari jalan
keluar dari setiap permasalahan
4)
Wikrama : memiliki upaya dan kemampuan untuk
melaksanakan
semua rencana dan rumusan yang telah
direncanakan
5)
Logika : dalam bertindak selalu
mempertimbangkan nalar yang
sehat dan dapat diterima oleh masyarakat
4. Nawa Natya
a) Nawa :
Sembilan
b) Natya :
Teguh, bertata susila
1)
Pradnya
Widagda : bijaksana dan ahli berbagai ilmu pengetahuan
2)
Wira
Sarwa Yudha : pemberani, pantang menyerah
3)
Paramartha
: sifat yang mulia dan luhur
4)
Dhirotsaha
: ketekunan dan keuletan
5)
Pragiwakya
: pandai berbicara didepan umum
6)
Samaupaya
: setia pada janji yang dibuatnya
7)
Laghawangartha
: tidak bersifat pamrih terhadap harta benda
8)
Wruh
Ring Sarwa Bastra : tahu cara mengatasi berbagai kerusuhan
9) Wiweka : dapat membedakan mana yang
benar dan yang salah
E. Sifat Kepemimpinan Hindu
1)
Sifat
– Sifat Pokok : Sifat dasar yang dimiliki seorang pemimpin yaitu adil, suka
melindungi atau mengayomi,
penuh inisyatif, penuh daya
tarik dan penuh kepercayaan
diri
2)
Sifat
– Sifat Khusus Karena Pengaruh Tempat :
Sifat yang pada pokoknya sesuai
dengan kepribadian bangsa
seperti bangsa Indonesia
dengan kepribadiannya yaitu
Pancasila
3)
Sifat
– Sifat Khusus Karena Pengaruh Berbagai Macam Golongan Pemimpin
: seperti sifat pemimpin partai
politik, pemimpin keagamaan, pemimpin serikat buruh
1)
Satya : kejujuran
2)
Arya : orang besar
3)
Dharma : kebajikan
4)
Asurya : orang yang dapat
mengalahkan musuh
5)
Mantri : orang yang dapat
mengalahkan kesusahan
6)
Salyatawan : orang yang banyak
sahabatnya
7)
Bali :
orang yang kuat dan sakti
8)
Kaparamarthan : kerohanian
9)
Kadiran : orang yang tetap
pendiriannya
10)
Guna : orang yang
banyak ilmu / pandai
1)
Siddhi : kemampuan bersahabat
2)
Wigrha : memecahkan setiap
persoalan
3)
Wibawa : menjaga kewibawaan
4)
Winarya :
cakap dalam memimpin
5)
Gascarya : mampu menghadapi lawan
yang kuat
6)
Stanha :
menjaga hubungan baik
1) Rupa : pemimpin harus
mengamati wajah dari para rakyatnya. Dengan begitu ia
akan
tahu apakah rakyatnya sedang dalam kesusahan atau tidak.
2) Wangsa : pemimpin harus
mengetahui susunan masyarakat (stratifikasi sosial)
agar
dapat menentukan pendekatan apa yang harus digunakan.
3) Guna : pemimpin harus
mengetahui tingkat peradaban atau kepandaian dari
rakyatnya
sehingga ia bisa mengetahui apa yang diperlukan oleh rakyat
1)
Indra Brata : Menciptakan kemakmuran
2)
Yama Brata :
Bersifat obyektif
3)
Surya Brata : Memberikan penerangan
4)
Candra Brata : Menampilkan wajah berseri - seri
5)
Bayu Brata :
Mengetahui masyarakat yang sebenarnya
6)
Baruna Brata : Memecahkan masalah yang ada
7)
Agni Brata : Memiliki jiwa pemberani
8)
Kwera atau Prthiwi Brata : Mampu mengatur keuangan
F. CONTOH PEMIMPIN
1) Gajah Mada
> Gajah Mada
memiliki 15 sifat kepemimpinan yang disebut dengan Panca Dasa Pramiteng Prabhu.
2) Maha Rsi Wyasa
> Maha Rsi
Wyasa memiliki sifat – sifat unggul yang dibawanya sejak ia lahir dan sifatnya
unik sep erti tidak dimiliki atau tidak dapat ditiru oleh orang lain.
3) Rama
> Rama
dipandang sebagai tokoh yang ideal, baik sebagai seorang putra, sangat setia
pada istrinya (Dewi Sinta) dan anak – anaknya.
4) Dasarata
> Dasarata
memiliki sifat yang jujur, berbudi luhur, selalu bertanggung jawab.
5) Sri Kresna
> Sri Kresna
memiliki sifat yang bijaksana, selalu memberikan motivasi, pandai dalam membaca
situasi atau keadaan.
Langganan:
Postingan (Atom)

